Latest Post

Silent is Golden Ala Boediono

Berawal dari sebuah sajian humor berbentuk potongan gambar peristiwa yang sedang booming di media sosial atau terkenal dengan sebutan “memecomic” (baca:mimkomik)-awas jangan salah membacanya :D. Komik seperti ini populer di twitter dan facebook, diupdate hampir setiap jam. Mayoritas isinya tentang jomblo dan lika-liku hidup mahasiswa, terkadang mengkritik sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Tidak jarang juga isinya mengkritik kebijakan pemerintah saat ini.

92025ae0-a9a6-11e3-b329-6323dd5df573_Penambahan-Personel-Kepolisian-100314-aw-4Salah satu yang membuat saya untuk berkomentar adalah sindiran untuk Wapres Boediono. Ditulis antara ada dan tiada. Saya sering tergelitik dan kadang mendiskusikan ini dengan rekan-rekan dan kawan aktivis.  Saya kaget saat kawan saya banyak yang bilang “memang indonesia punya wapres ?” sering saya merasa perlu untuk menjelaskan dan tidak jarang juga kemudian berdebat sengit. Beberapa orang berpendapat orang yang diam tak menampakkan diri di hadapan media itu tidak ada kerjanya. Wapres Boediono memang selama ini jarang tampil di media, beliau lebih banyak bekerja di balik layar. Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat akrobat para politisi yang dicitrakan sederhana dan dikatakan mau bekerja untuk rakyat dengan cara blusukan. Maka mulai banyak menjelang pemilu atau pemilukada tokoh-tokoh calon pemimpin blusukan untuk mendapat simpati rakyat. Rakyat pun terlena dan menikmati drama seperti ini. akhirnya kita lupa bahwa ukuran kinerja seseorang tidak bisa diukur dengan seberapa sering blusukan atau seberapa sering diliput stasiun TV dan koran. Wapres Boediono adalah sosok pemimpin yang saya pikir punya teladan untuk itu. Beliau bekerja untuk kepentingan rakyat, tetapi tidak banyak diliput media. Kalau masih banyak yang nyinyir terkait kinerja pak Boediono, maka saya ingatkan kembali, beliau dipakai oleh beberapa presiden lho. Itu bukti bahwa kinerjanya baik. Lalu bagaimana dengan kasus Century ? saya sebagai awam ekonomi tidak ingin mengulas lebih jauh. Namun bagi saya kalau memang pada saat itu benar krisis terjadi di Indonesia, maka yang salah juga Pak Boediono membiarkan Indonesia terkena dampak krisis global. Mungkin kita sulit untuk memahaminya karena toh saat ini banyak rakyat Indonesia hidup berkecukupan meski ada segelintir orang yang hidupnya sengsara.  

Hari Kamis, 19 Maret 2014 lalu, Wapres Boediono berkesempatan hadir di Acara Mata Najwa Metro TV. Najwa Shihab sebagai host acara tersebut seperti biasa dengan pertanyaan cukup pedas sehingga membongkar semuanya yang selama ini luput dari perhatian publik, termasuk kasus century. Setelah melihat acara tersebut, saya semakin kagum dan bangga. Inilah sosok pejabat yang sebenarnya. Sedikit saya mengutip prolog dari acara tersebut, “Pak Boed, begitu ia kerap disapa, pribadi hening dari ingar-bingar berita. Sebagai pribadi Pak Boed suri teladan, sebagai pejabat silakan diperdebatkan. Dia tak banyak bicara mengutas kata, apalagi membumbui dirinya dengan citra. Sosok teknokrat jenis pekerja, tegak lurus atasan & detil dalam berencana.”

catatan najwa di episode mata najwa hari kamis, 19 maret 2014 itu menarik untuk disimak. bunyinya seperti berikut

Pak Boed lama bersama kekuasaan, dalam makna lain telah memberi pengabdian. Dia mungkin contoh yang sempurna, pejabat nonpolitik yang relatif diterima. Sebagai wapres dia tahu diri, berada di gelanggang sebagai pengganti. Kini dia menjadi samsak amuk politik, akibat bank gagal berdampak sistemik. Ada yang menudingnya miskin terobosan, hanya karena Pak Boed taat aturan. Dia bukan bintang liputan media, meski bukan berarti sedikit bekerja. Selamanya kita bisa belajar dari dirinya, laku keseimbangan yang terjaga. Berwibawa tanpa banyak kata, lama berkuasa namun tetap hidup sederhana. Dia teknokrat yang santun dalam batasan, menyeimbangkan peran & atasan. Bekerja dalam dingin rasionalitas angka, paham distorsi pasar & negara. Pak Boed terpuji karena laku sederhana, merintis jalan menuju negeri sejahtera, meski ia tak sepenuhnya berkuasa. Dalam kecamuk belenggu para politisi, Boediono contoh pekerja yang memilih sunyi.

Berikut ini adalah video acara Mata Najwa episode Boediono :)