ImageSetahun yang lalu saya menghadiri kegiatan silaturahmi Idul Fitri 1432 H di Balai Pertemuan Umum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). UPI kedatangan tamu spesial yaitu Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian, seorang pendiri lembaga ESQ.

Hal yang menarik saya catat adalah topik mengenai belajar dari Jepang. Tahun 1940-an awal, Indonesia dijajah oleh Jepang. Kemudian di tahun 1945 Jepang kalah dalam perang Asia Pasifik. Jepang menyerah kepada Sekutu setelah mendapat serangan balik dari tentara sekutu. Terutama Kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh tentara sekutu. Jepang sempat mengalami krisis akibat kekalahan dalam perang tersebut. Namun beberapa tahun kemudian negeri yang dijuluki “Matahari Terbit” mulai bangkit dan menjelma menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Bahkan Jepang dijuluki sebagai “Macan Asia”.

Maret 2011 bencana Tsunami menerpa negeri sakura. Krisis ekonomi kembali terjadi. banyak perusahaan-perusahaan elektronik dan otomotif kenamaan merugi akibat tsunami. Hal yang menarik disampaikan oleh Ary Ginanjar, “Di jepang pasca bencana Tsunami yang lalu memang terjadi krisis yang luar biasa. Namun jepang tetap memiliki nilai atau moral dalam menghadapi semua ini.”

poin-poin positif yang saya catat itu diantaranya :

  • Tetap mengantri untuk mendapat bantuan
  • Harga barang tidak dinaikkan justru diturunkan
  • Tidak ada penjarahan di toko-toko dan swalayan
  • Perdana menteri jepang Naoto Kan mengundurkan diri ketika dinyatakan gagal memimpin penanganan tsunami dan krisis nuklir akibat gempa bumi, beberapa waktu lalu.

Menurut Ary Ginanjar, suatu dimensi manusia yang baik tersusun atas VALUE – SYSTEM – LEADERSHIP. Jepang dianggap telah sukses membangun value (nilai) masyarakatnya. Ketika system di Jepang luluh lantak oleh bencana tsunami, orang jepang masih memiliki value yang terpatri dalam dirinya sehingga tidak merusak tatanan kehidupan. Diilustrasikan oleh Ary Ginanjar bahwa ketika itu di pengungsian bantuan akan datang ke setiap tenda. Di kala seorang relawan memasuki sebuah tenda dan penghuni di tenda tersebut telah menerima cukup bantuan, maka penghuni tenda tersebut akan berkata, “Saya sudah menerima cukup bantuan, silahkan beri ke tenda di sebelah mungkin mereka belum menerima bagian.” Mereka tidak mentang-mentang sedang tertimpa musibah, maka akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Justru mereka tetap saling toleransi dan saling menghargai.

“Example is the school of mankind, and they will learn at no other”
(Edmund Burke)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s