Mengkaji Konsep Berkelanjutan Pada Arsitektur Tradisional Sunda


Arsitektur tradisional Sunda adalah karya arsitektur yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Sunda di Indonesia. Arsitektur tradisional terbangun dengan bahan-bahan alami. Dalam masyarakat tradisional Sunda, untuk mendirikan sebuah bangunan perlu ritual-ritual khusus. Pada intinya mereka mempercayai bahwa lokasi site yang akan dibangun ada yang memilikinya. Ritual khusus tersebut bermaksud untuk memohon izin kepada Yang Maha Kuasa agar pada lokasi yang akan dihuni tersebut nantinya memberikan keselamatan dan keberkahan bagi penghuninya. Dalam membangun pun tidak sembarangan. Material alam yang akan dipakai untuk membangun dipilih dan diupayakan agar tidak merusak komunitas alam. Hal ini berbanding terbalik dengan realita kehidupan masyarakat modern saat ini yang cenderung mengeksploitasi alam. Inilah mengapa terjadi persoalan banjir dan tanah longsor. Bahkan masalah banjir telah menjadi perhatian khusus bagi para kepala daerah di Indonesia.

4

Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat, salah satu kampung yang masih menggunakan prinsip-prinsip tradisional Sunda (Iswanto, 2014)

Menarik pada masyarakat tradisional begitu kaya akan filosofi dan pandangan hidup mereka terhadap alam semesta. Falsafah hidup tersebut mempengaruhi desain arsitektur mereka. Mari kita diskusikan hal ini. Beberapa yang saya catat tentang konsep berkelanjutan (sustainable) pada arsitektur tradisional sunda dirangkum ke dalam tiga aspek yaitu pada bentuk bangunan, struktur bangunan dan material yang digunakan untuk membangun.

Konsep Bangunan

Rumah pada arsitektur tradisional Sunda didesain dengan menggunakan rumah panggung. Pada rumah panggung, massa bangunan diangkat ke atas dengan pondasi umpak sehingga terbentuk kolong di bawah rumah. Kolong pada rumah panggung memungkinkan terjadinya sistem sirkulasi udara secara menyilang yang diilustrasikan pada gambar berikut.

3

Ilustrasi aliran udara pada rumah tradisional Sunda (Iswanto, 2013)

Berdasarkan ilustrasi tersebut, sirkulasi udara terjadi tidak hanya horizontal tetapi juga dari bawah bangunan. Udara yang masuk adalah udara yang masih bersih dan sejuk sehingga menyehatkan kondisi di dalam bangunan. Udara yang telah tercemar atau telah berputar di dalam ruangan akan dikeluarkan melalui ventilasi dan bukaan.

  • Struktur Bangunan

(1) Pondasi Rumah tradisional Sunda dibangun dengan menggunakan pondasi umpak. Pondasi umpak ini terletak di atas permukaan tanah. Sehingga mengangkat massa bangunan ke atas. Pondasi umpak ini menyebabkan terjadinya ruang kosong di bawah massa bangunan yaitu kolongKolong dibiarkan secara alami berupa tanah tanpa sentuhan penyelesaian. Tanah yang dibiarkan apa adanya tersebut menciptakan area untuk resapan air. Pada saat hujan turun, air hujan akan meresap dengan cepat ke dalam tanah sehingga mencegah terjadinya banjir. (2) Lantai, biasanya masyarakat sunda menggunakan lantai yang disebut dengan palupuh (lantai bambu). Lantai bambu ini menimbulkan celah-celah sempit yang memungkinkan untuk masuknya aliran udara dari kolong. (3) Dinding, dinding pada rumah tradisional Sunda menggunakan bilik bambu. (4) Atap, masyarakat Sunda menggunakan material ijuk atau alang-alang untuk penutup atap rumahnya. Material ijuk atau alang-alang dapat menyerap hawa panas dari radiasi sinar matahari sehingga suhu di bawah atap menjadi tetap sejuk.

Material/Bahan Bangunan

Masyarakat Sunda membangun rumah mereka berdasarkan kepercayaan terhadap pembagian kekuasaan dunia. Masyarakat Sunda percaya dengan konsep buana panca tengah yang merupakan metafora alam semesta tempat dimana manusia hidup. Representasi terhadap kepercayaan tersebut menyebabkan rumah tradisional Sunda tidak langsung menyentuh kepada tanah, tetapi diberi jarak untuk menghormati tempat orang yang sudah meninggal. Tanah dalam kosmologi masyarakat Sunda merupakan larangan bagi orang yang masih hidup. Oleh karena itu material bangunan yang dipilih menghindari unsur tanah di dalamnya seperti batu bata, genteng yang berasal dari tanah liat, dan keramik. Masyarakat Sunda beranggapan apabila orang yang masih hidup menggunakan material yang terbuat dari tanah sama artinya dengan mengubur diri. Sehingga material yang dipilih banyak berupa kayu, bambu, dan ijuk. Hal ini cukup beralasan karena wilayah Jawa Barat sebagai tempat tinggal masyarakat Sunda, dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah.

DSC_0222

Saya bersama dosen dan kawan-kawan saat mengunjungi Kampung Naga di Tasikmalaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s