Tri Hita Karana merupakan konsep yang melandasi terbentuknya susunan makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Adapun konsep tersebut terdiri dari tiga unsur yaitu atma (jiwa), prana (tenaga), dan angga (fisik). Lebih lanjut konsep tersebut dalam susunan kosmos disajikan pada tabel berikut.

Tabel 1. Konsep Tri Hita Karana dalam Susunan Kosmos

UNSUR ATMA

(JIWA)

PRANA (TENAGA) ANGGA

(FISIK)

Alam Semesta

(bhuana agung)

Paramaatman

(Tuhan Yang Maha Esa)

Kekuatan yang menggerakkan alam Unsur-unsur Panca Mahabhuta
Desa Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem) Pawongan

(warga desa)

Palemahan

(wilayah desa)

Banjar Parahyangan

(Pura Banjar)

Pawongan

(warga banjar)

Palemahan

(wilayah banjar)

Rumah Pamerajan/

Sanggah

Anggota Keluarga Pekarangan Rumah
Manusia

(bhuana alit)

Atman (jiwa manusia) Sabda Bayu Idep Badan/Tubuh Manusia
(Sumber : Rachmat Budihardjo, 2013) 

Dasar konsep tersebut bersumber dari lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Gumi. Parwata (2011) menjelaskan bahwa penjabaran ajaran Tri Hita Karana dan kaitannya dengan konsep Tri Mandala adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang dilakukan dalam dimensi ruang Utama Mandala. Hubungan manusia dengan sesamanya dilakukan dalam dimensi ruang Madya Mandala. Sedangkan dimensi Nista Mandala merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya.

blog_bali

Gambar 1. Konsep Tri Mandala (Sumber : Eko Budihardjo dalam Suharjanto, 2011)

Subandi dalam Kumurur dan Damayanti (2009) mengatakan bahwa agama Hindu mengajarkan agar manusia mengharmoniskan alam semesta dengan segala isinya yakni bhuana agung (Makro kosmos) dengan bhuana alit (Mikro kosmos), dalam kaitan ini bhuana agung adalah lingkungan buatan/bangunan dan bhuana alit adalah manusia yang mendirikan dan menggunakan wadah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

[1]  Budihardjo, R. (2013). Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri. Jurnal Nalars Vol. 12 No. 01

[2]  Kumurur, V.A; Damayanti, S. (2009). Pola Perumahan dan Pemukiman Desa Tenganan Bali. Jurnal Sabua Vol. 01 No. 01

[3]  Parwata, I.W. (2011). Rumah Tinggal Tradisional Bali dari Aspek Budaya dan Antropometri. Jurnal Mudra Vo. 26 No. 01

[4]  Suharjanto, G. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular : Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali. Jurnal Comtech Vol. 02 No. 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s