Awalnya saya tidak sengaja memindahkan channel televisi ke saluran TVRI Nasional. Jarang sekali saya menonton saluran TVRI kecuali pada 17 Agustus untuk menyaksikan upacara peringatan detik-detik proklamasi dari istana negara. Selain karena saya jarang menonton televisi, acara di TVRI menurut saya terlalu serius, materinya agak berat untuk seusia saya.

Gedung TVRI - Source : CNN Indonesia
Gedung TVRI – Source : CNN Indonesia

Ada yang menarik perhatian saya untuk tidak beranjak dari channel TVRI ini. Sabtu malam sekitar pukul 20.00 WIB di TVRI ditayangkan program “Cakep Show”. Istilah cakep di sini bukan berarti seorang yang ganteng atau tampan melainkan sebuah akronim dari “cari kemana pesannya ?”

Pertama kali menyaksikan, saya belum mengerti maksud acara ini. Setelah dua-tiga kali menyaksikannya, saya mulai sedikit paham mekanismenya. Cakep Show hampir mirip seperti kuis menebak lagu, namun host-nya menegaskan bahwa tujuannya bukan sekedar menebak lagu tapi untuk mengajak kita menyanyi bersama lalu mencari pesan yang terkandung dari sebuah lagu berdasarkan persepsi masing-masing orang – biasanya dikaitkan dengan konteks masa kini.

Dua orang sinden (penyanyi) yang ayu jelita membuka acara dengan alunan suara yang merdu diiringi dengan paduan instrumen musik lokal yang familiar di telinga.  Ini membawa memori saya kepada acara komedi show Opera Van Java di Trans 7 yang menjadi trendsetter penampilan sinden dan musik lokal di layar televisi.

Acara ini dipandu oleh seorang host yang cantik, Conchita Caroline dan ditemani oleh tiga orang panelis yang disebut sebagai “trio pepesan” beranggotakan pakar komunikasi politik kondang, Effendi Gazali, Ph.D dan komedian Keliek Pelipur Lara atau yang lebih dikenal sebagai Ucup Keliek, serta satu orang lagi yang selalu membawa gitar – maaf, saya baru kali ini melihatnya, sepertinya orang baru di dunia hiburan.

Penonton yang hadir di studio biasanya merupakan komunitas atau mahasiswa yang kemudian akan dipilih satu atau dua orang untuk menjadi peserta. Setiap episode, dihadirkan peserta tamu khusus yang biasanya adalah tokoh yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Sebut saja beberapa diantaranya yang pernah mengisi acara ini adalah: Adhyaksa Dault (Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga), Krisna Mukti (Anggota DPR RI), Djarot S. Hidayat (Wakil Gubernur DKI) dan Rijanto (Wakil Bupati Blitar).

Cakep Show dibagi menjadi dua babak dan diselingi oleh hiburan ekstra seperti lawakan dari panelis atau unjuk bakat menyanyi dari peserta tamu khusus. Pada babak pertama, peserta diminta untuk memilih satu alfabet antara A sampai G. Di setiap alfabet tersembunyi judul lagu yang harus dinyanyikan. Jika peserta tidak mengenal lirik dari judul lagu yang dipilih, peserta boleh meminta bantuan kepada rekan-rekannya (penonton). Selesai menyanyi, peserta diminta pendapatnya terhadap pesan dari lagu yang dinyanyikan berdasarkan persepsinya masing-masing. Setelah itu trio pepesan akan menilai pendapat peserta. Biasanya lagu yang menjadi challenge di babak pertama ini adalah lagu-lagu daerah, lagu nasional atau lagu populer Djaman Doeloe. Seperti pada episode hari sabtu 24 Oktober lalu menampilkan lagu “Desaku”, “Gandrung” dan “O Inani Keke”. Tidak jarang para peserta mengalami kesulitan untuk memahami pesan dari lagu yang dinyayikan. Alasannya sederhana, bahasa daerah yang digunakan dalam lirik lagu tersebut tidak dapat dimengerti dengan baik oleh peserta. Jika itu terjadi, sinden atau panelis akan membantu peserta dengan menerjemahkan lirik lagu ke bahasa Indonesia.

Sering kali saya merasa geli dengan komentar-komentar trio pepesan sebagai panelis. Komentar pedas dan nyelekit khas Effendi Gazali, mampu menggiring pikiran saya untuk mengaitkan makna lagu kepada hal-hal yang terjadi di pemerintahan masa kini. Seolah tidak kehabisan ide untuk bisa mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tepat. Guyonan yang menjadi ciri khas Ucup Keliek tampil secara klasik dengan pembawaan khas yang memancing tawa setiap kali kamera menyorotnya. Ucup Keliek masih tampil sebagai parodi wapres JK seperti yang pernah dilakoninya di acara “Republik BBM dan “Republik Mimpi”. Ternyata humor klasik yang ditampilkan oleh trio pepesan itu masih bisa membuat saya tertawa ngakak.

Babak kedua masih sama dengan babak pertama yaitu menyanyikan lagu lalu menjelaskan pesannya. Perbedaannya di babak ini, peserta bisa meminta bantuan tidak hanya dari penonton di studio tapi juga dari sinden atau panelis. Jika di babak pertama nuansa lokal begitu kentara, kali ini lagu dangdut menjadi pemeran utamanya. Irama musik dangdut yang gembira membuat suasana semakin cair. Tidak sadar saya ikut hanyut dalam suasana dan bergoyang mengikuti ketukan irama.

Byn3OV_CUAEwCgj
Conchita Caroline – Source : twitter.com

Tidak terasa sudah memasuki penghujung acara, menurut host-nya, Conchita Caroline, acara Cakep Show ini terdiri dari satu musim. Jujur saja saya tidak terlalu mengerti apa yang disampaikannya, tapi intinya yang saya tangkap nanti akan ada acara grand final dan ada hadiah jutaan rupiah bagi juara pertamanya. Di setiap episode akan dipilih satu atau dua orang pemenang yang akan masuk ke grand final, begitulah kira-kira.

Setelah menonton acara ini saya masih penasaran dengan tujuan sebenarnya acara ini. Dari tiga episode yang sempat saya saksikan saya mencoba menganalisanya. Kehadiran Effendi Gazali dan Ucup Keliek di acara ini jelas mengingatkan saya pada acara “Republik Mimpi” yang menjadi hits di masanya. Saya menduga acara menyanyi ini hanya kamuflase belaka. Dalam berbagai kesempatan, panelis kerap melontarkan kritikan tajam pada pemerintah. Kadang-kadang secara halus menyindir kebijakan tokoh – politikus – yang menjadi tamu khusus di program ini. Kepiawaian Effendi Gazali dan Ucup Keliek mengolah kata dan kalimat tidak jarang membuat peserta yang notabene sebagai pejabat incumbent ini bermuka masam. Berani benar mereka tanpa basa-basi mengkritik langsung pas ada orangnya di depan mereka.

Yah .. apapun itu, saya pikir acara ini sangat menarik untuk disimak. Di saat banyak stasiun televisi berlomba-lomba menyiarkan drama yang tidak mendidik, show aliran musik modern, talk show yang lebih banyak bercandanya daripada ngobrol dengan narasumber, acara berita yang tendensius atau memuja-muji terhadap kebijakan pemerintah, Cakep Show hadir sebagai acara hiburan semacam kuis dengan variasi lawakan, khazanah musik lokal, dan sedikit bumbu kritik pedas secara proporsional. Semoga saja acara ini selalu konsisten dan berkembang agar tetap eksis.

Kelihatannya hari Sabtu dan Minggu malam saya berikutnya akan disibukkan dengan kegiatan “nonton tv” lagi🙂

Satu.. Dua..tiga .. Cakeeepppp !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s