Tipologi Arsitektur Tradisional


DSC_0136Tipologi bangunan adalah ilmu tentang klasifikasi sesuatu. Menurut Iswati (2003) dalam Santoso (2011), tipologi adalah studi tentang tipe dengan kegiatan kategorisasi dan klasifikasi untuk menghasilkan tipe. Kegiatan kategori dan tipe tersebut sekaligus dapat dilihat keragaman dan keseragamannya. Menurut Loekito (1994) dalam Pangarsa. dkk (2012), tipologi dapat dilakukan apabila obyek yang diteliti memiliki kesamaan sifat atau ciri-ciri.

Arsitektur tradisional di Indonesia memiliki kesamaan prinsip dalam menerjemahkan makna ruang kehidupan. Desain arsitektur mereka dilatarbelakangi oleh kepercayaan dari leluhurnya yang berkembang di masyarakat setempat. Filosofi ketuhanan terkandung dalam pertimbangan rancangan bangunan mereka. Desain arsitektur tradisional Indonesia sebagian besar menggunakan material yang terdapat di lingkungan sekitarnya, sehingga menghasilkan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Muatan kearifan lokal tersebut seringkali melampaui zaman dan masih relevan dengan konteks kekinian. Pangarsa. dkk (2012) mengelompokkan Arsitektur Tradisional di Indonesia dalam kategori yang didasarkan pada strategi kebudayaan, yaitu:

Keperkasaan Masyarakat Megalit;

Melanjutkan sifat-sifat dasar masyarakat mengalit yang selama ini dianggap telah punah, tetapi penerusnya masih memiliki tradisi yang dipegang teguh. Ciri ini hanya tertinggal jejak-jejak tipisnya di beberapa tempat seperti Batak, Sumba atau Toraja. Warisan keperkasaan mengolah batu-batu besar tampak pada arsitekturnya.

Kewaspadaan Pelestari Lingkungan Hutan;

Kepekaan dalam mengenali dan menjaga kondisi alam di sekitar hunian manusia telah menjadikan masyarakat pelestari hutan waspada dalam mengelola alamnya.Fenomena ini sekarang tinggal terwakili oleh beberapa “artefak” saja, misalnya Mentawai atau Papua.

Ketekunan Masyarakat Tani Pedalaman;

Kebersamaan dan kejelian dari masyarakat tani pedalaman telah banyak menelurkan norma dan kebudayaan yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan binaannya. Sebagian besar dari arsitektur rakyat Nusantara adalah dari kelompok masyarakat tani pedalaman dan masyarakat tani pesisir pantai dengan ciri “ketekunan mengolah tanah pertanian”.

Keterbukaan Masyarakat Pesisir

Kondisi alam dan kebutuhan dalam berhuni membentuk masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka dalam menata ruangnya. Pendeknya ruang transisi yang mereka bangun seakan menjadikan ruang bersama adalah salah satu cara perlingdungan diri terhadap keberadaan manusia di dalam arsitekturnya.

Kelenturan Masyarakat Dagang, Industri dan Informasi

Arsitektur rakyatnya terkena dampak langsung dari peradaban industri yang mengimbas dari kota-kota besar ke daerah perdesaan di sekitarnya.

Dari hasil temuan-temuan di atas, kita dapat melihat bahwa Arsitektur Tradisional memiliki ciri yang khas. Mereka bersifat harmoni dengan alam sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggalnya, masyarakat tradisional berusaha untuk tetap menjaga keaslian ekosistem lingkungan. Dengan harmonisasi ini akan terwujud suatu pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini dipertegas oleh Bruntland (1987) dalam Widaningsih dan Cahyani (2013) yang menyatakan “Sustainable development is development which meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs.” Demikianlah pembangunan berkelanjutan didefinisikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja tetapi juga memenuhi kebutuhan bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Pangarsa WG, dkk. (2012). Tipologi Nusantara Green Architecture Dalam Rangka Konservasi Dan Pengembangan Arsitektur Nusantara Bagi Perbaikan Kualitas Lingkungan Binaan. Jurnal RUAS, 10, (2), 78-94
  2. Santoso I. (2011). Studi Pengamatan Tipologi Bangunan pada Kawasan Kauman Kota Malang. Jurnal Ilmiah Local Wisdom. 3, (2), 10-26.  
  3. Widaningsih L, Cahyani D. (2013).Pengukuran Indeks Arsitektur Hijau (Green Building) pada Arsitektur Tradisional di Jawa Barat. Proposal Penelitian. Tidak diterbitkan

10 Cara Membuat Presentasi PowerPoint Menjadi Menarik


Memasuki pertengahan tahun ini saya ingin sedikit berbagi tips untuk membuat presentasi powerpoint kepada rekan-rekan. Powerpoint adalah alat bantu presentasi yang populer digunakan oleh khalayak baik mahasiswa, dosen, guru maupun praktisi bisnis lainnya. Karakteristiknya yang mudah dan banyak fitur menjadi keunggulan tersendiri. Selama ini powerpoint terkadang digunakan hanya sebagai salinan contekan yang ditampilkan ke hadirin. Biasanya seorang presenter yang teknik presentasinya demikian dianggap membosankan dan hadirin menjadi tidak tertarik dengan topik yang dibawakannya, meski isi materinya itu sangat bagus. Cara presentasi demikian pernah saya alami, saya juga pernah ditegur oleh dosen dengan  gaya presentasi yang membosankan itu. Alhamdulillah dengan adanya PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dan saya ikut berpartisipasi di dalamnya, saya mendapat banyak pelajaran bagaimana menjadi presenter yang baik serta menyusun materi ke dalam powerpoint untuk dapat terlihat menarik. Tampilan yang menarik akan menggugah hadirin untuk menyimak presentasi kita sampai selesai.

Untuk membuat tampilan powerpoint menjadi menarik hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.

  1. Pertama untuk desain power point itu sendiri, kita bisa membuat template sendiri yang menunjukkan karakter dan menjadi ciri khas dalam setiap penampilan. Sebaikya desain template dibuat dengan memperhatikan fungsi, bersih dan simple, tidak perlu banyak menampilkan pernak pernik atau gambar-gambar yang tidak ada hubungannya dengan materi. Warna pada template juga sebaiknya dibatasi menjadi 2 atau 3 warna. Penggunaan banyak pernak-pernik dan warna yang berlebihan malah akan membuat pusing orang yang membacanya
  2. Cover adalah bagian pembuka dari presentasi, ini merupakan salah satu bagian penting yang memberi informasi tentang topik yang akan dibawakan. Biasanya pada halaman cover terdapat judul, nama presenter, logo, tanggal dan lokasi presentasi. Disini bisa juga ditambahkan sebuah gambar yang mewakili tema.
  3. Pada bagian pembukaan, biasanya ada latar belakang atau pendahuluan yang menjadi inti permasalahan. Tulisan panjang lebar yang teoritis bisa dikonversi menjadi sebuah gambar besar atau infografis yang simple untuk diceritakan.
  4. Perhatikan jenis dan ukuran font yang digunakan. Gunakanlah font standar dengan ukuran yang jelas dan mudah dibaca, misalnya Arial ukuran 28.
  5. Usahakan pada slide lebih diperbanyak gambar dan grafik, sebaiknya buat tulisan menjadi lebih ringkas. Buat poin-poin yang tajam langsung kepada inti.
  6. Nomor halaman pada setiap slide juga penting, namun ini sering dilupakan :)
  7. Sisipkan animasi, namun jangan berlebihan karena akan membuat tidak fokus kepada materinya.
  8. Jika dibutuhkan, bisa disisipkan video yang berkaitan dengan materi, video ini bisa jadi adalah dokumentasi pribadi atau bisa diunduh dari youtube. Jangan lupa cantumkan sumbernya jika itu bukan milik pribadi :)
  9. Buat animasi pada setiap transisi atau pergantian slide. Namun jangan berlebihan, pilih yang sederhana. Pernah saya melihat presentasi yang setiap pergantian slide selalu berputar-putar, ini membuat pusing :|
  10. Slide tidak perlu dibuat banyak-banyak, ini bukan skripsi atau makalah :) , langsung saja kepada inti yang ingin disampaikan. Sesuaikan dengan waktu presentasi, rata-rata 10-15 slide

Demikianlah cara membuat presentasi powerpoint, terima kasih sudah menyimak, semoga bermanfaat. Sedikit tambahan untuk rekan-rekan mahasiswa, untuk melakukan presentasi lakukanlah dengan suara yang lantang dan penuh percaya diri. Jangan terpaku dengan layar atau membaca isi slide. Untuk itu sebelum presentasi perlu menguasai materi yang akan dibawakan. Supaya lebih sistematis, bisa dibuat skenario atau bahan yang akan diceritakan pada setiap slide. Mulai dari pembukaan, isi, penutupan hingga humor dalam presentasi bisa diskenariokan untuk kemudian dihafalkan :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.